Desa Wisata Bonjeruk, Bentuk Pelestarian Kearifan Budaya Lokal

Desa wisata Bonjeruk, yang khas dengan pasar bambunya. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk pelestarian kearifan budaya lokal di Lombok.

Meskipun ini pertama kalinya saya berkunjung, padahal aselinya emang orang Lombok. Namun ternyata saya kurang jalan-jalan ya. Maklum salah satu healing saya adalah menyendiri dan tenggelam dengan tulisan.

pasar bambu bon jeruk
Dokumentasi pirbadi, pasar bambu bonjeruk

Pasar Bambu, Tempatnya Kuliner Khas Lombok Yang Maknyus

Jadi setelah selesai tugas dari koordinasi dengan Dinas Perindustrian Lombok Tengah, bersama dengan rekan-rekan kerja, kamipun memutuskan mampir untuk makan di Pasar Bambu, Desa Bonjeruk ini.

Awalnya saya pikir di sini hanya terkenal karena lokasi dan instagramable saja, namun ternyata meleset dari perkiraan saya. Di sini, lebih dari itu. Ademnya di bawah rumpun bambu dan aroma pedesaan jaman dulu.

Begitu masuk, driver kami yang aslinya orang Lombok Tengah langsung menjelaskan, bahwa di area Desa wisata ini ada beberapa tempat yang memang disulap menjadi lokasi pasar traditional yang patut menjadi destinasi wisata kuliner.

Seperti salah satu tempat yang saya kunjungi ini, namanya Pasar Bambu. Begitu masuk, saya disambut pemandangan pedagang jajanan khas Lombok, persis seperti ketika saya masih kecil. Ada juga lapak soto dan kelapa muda.

Pedagang jajanan tradisional pasar bambu bonjeruk

Jangan bayangkan tempatnya dengan papin blok, karena memang kearifan lokal budayanya justru di tonjolkan di sini. Seluruh pelayan nya adalah dari masyarakat khususnya anak muda setempat. Mereka mengenakan pakaian adat Lambung khas Lombok.

Sejumlah berugak (balai-balai) segiempat dari bambu menjadi ciri khas tempat makannya, ditambah dengan tumbuhan bambu khas perkampungan Lombok jaman dulu, serasa kembali ke masa lalu. Masa di mana saya bermain di antara rumpunnya bambu-bambu besar di desa Nenek saya.

Sejumlah menu khas Lombok seperti Ayam panggang dengan sambal yang disirami minyak jelengan (minyak kelapa murni yang dibuat sendiri untuk masak oleh masyarakat Lombok), kopi Lombok, ikan nila goreng, ayam penget goreng dan beberok khas Lombok.

Proses pemasakan ayamnya dengan pemasakan traditional, dipanggang dengan jangkih (kompor tanah liat dan kayu bakar), ayamnya pakai ayam kampung yang empuk dan segar.

Bau sedap minyak kelapa ini yang bikin perut tambah lapar dan otak jadi kembali ke masa lalu. Belum lagi habis makan hidangan utama, bisa mencicipi jajanan sasak seperi kelepon dari ubi ungu dan ada juga dari ketan, cerorot, kue lupis dan ontal antil dengan kelapa parut dan gula merahnya.

Menu makanan khas sasak di pasar bambu bonjeruk

Saya pikir itu saja, ternyata jajanan khas lebaran pun ada. Apalagi kalau bukan jaje tujak poteng (ketan tumbuk dengan tape ketan juga). Wah, jaje tujaknya lembut dan kenyal, potengnya lumayan manis juga. Selain itu tersedia juga kue kering lebaran lainnya seperti semprong, renggi dan aneka keripik.

Pelestarian Yang Tepat, Memajukan Kehidupan Ekonomi Rakyat

Bagi saya pribadi, konsep desa wisata seperti ini justru membawa banyak manfaat bagi kemajuan sebuah desa. Dikemas dengan menonjolkan kearifan lokal, namun tetap memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang.

Pasalnya, di lokasi ini sejumlah petugasnya sudah menggunakan HT untuk saling berkoordinasi satu sama lain demi memberikan pelayanan yang baik bagi setiap pengunjung.

Selain itu, metode pembayaran di sini pun sudah menggunakan Qris dan mesin EDC. Jadi jangan khawatir jika tidak membawa uang cash ya. Kita cukup pesan, makan dan bisa bayar di satu tempat.

Ada lagi yang membuat saya nyaman datang ke sini, karena fasilitas seperti kamar mandinya sangat bersih, dan mushala nya juga bersih dan rapi. Sepertinya para pengelolanya sudah paham bahwa nyaman saat berkunjung, merupakan salah satu nilai plus dari sebuah destinasi wisata.

Dari kunjungan ini, saya berkesimpulan, seandainya saja setiap desa dapat melihat potensinya sendiri sehingga dapat meningkatkan perekonomian dengan cara seperti ini. Tanpa harus meninggalkan budaya dan kearifan lokalnya. Dengan tetap menjadikan kemajuan perekonomian rakyatnya.

Bukan hanya itu, konsep memajukan kehidupan ekonomi rakyat melalui pemanfaatan tenaga lokal seperti ini juga akan meminimalisir angka kesenjangan sosial dan angka kriminalitas. Sehingga tentu saja kekompakan dalam masyarakatnya akan terjalin dengan baik.

Karena pada prinsipnya, dari masyarakat untuk masyarakat juga. Roda perekonomian berputar di satu tempat, perputaran uang pun di situ. Tentu saja hal ini sangat patut di tiru dan di aplikasikan, apalagi mengingat destinasi wisata Lombok itu tak ada habisnya.

Beberapa Desa Wisata di Lombok

Sebenarnya ini bukanlah desa wisata pertama yang saya kunjungi, sebelumnya saya pernah juga menginap di desa wisata Tete Batu. Atau Desa Wisata Sade yang sudah lebih dulu terkenal.

Setiap desa punya kemasannya sendiri dalam memasarkan produk wisatanya. Punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Namun semuanya patut di apresiasi, sebagai bentuk kreatifitas dari pemerintah desa dalam memajukan kesejahteraan penduduknya.

Sebagai warga Lombok Asli, saya sangat berharap semua desa yang berada di daerah wisata, dapat mengelola aset daerah dan keindahan desa mereka dengan arif dan bijak. Dapat mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, namun tetap dapat melestarikan budaya dan kearifan lokal yang ada.

Sekian ulasan desa wisata kali ini, jika ada pertanyaan seputar Lombok, bisa tag di kolom komentar. Atau mau request tulisan juga boleh.

Diterbitkan oleh LombokAuthor

Yang Viral dan Unik Cari di sini

Tinggalkan komentar